Selasa, 26 Februari 2013

MASA DEPAN TUHAN bagian I


Dalam kesempatan ini, Saya akan mengorek isi buku yang saya pinjam dari Sahabat perempuan yang memiliki jiwa yang Logos atau yang berfikir logika pragmatis, 
buku yang saya pinjam adalah, buku dari karya KAREN ARMSTRONG yakni penulis buku BESTSELLER SEJARAH TUHAN, akan tetapi bukan buku Sejarah tuhan yang akan saya obrak- abrik isinya, melainkan buku setelahnya Yakni
MASA DEPAN TUHAN.

KAREN ARMSTRONG adalah komentator terkemuka di dunia tentang masalah-masalah Agama, dia pernah menjadi biarawati katolik Roma selama tujuh tahun, dan kemudian melepas ordonya untuk belajar sastra inggris, Karen juga penulis buku yang terkenal, beliau menulis 15 buku yang tidak jauh terkenal dengan buku masa depan Tuhan, 

Dan kembali ke pembicaran semulaa,
buku ini condong membahas sanggahan terhadap FUDAMENTALISME Dan ATEISME, setelah Karen Armstrong melacak perkembangan konsepsi manusia tentang sang pencipta dalam SEJARAH TUHAN, di buku ini Karen menunjukan pembelaan terhadap Tuhan dan agama menentang fudamentalisme dan ateisme.

Di penjuru dunia, kita dapat melihat agama-agama sedang mengalami kebangkitan. 
Dampaknya bisa terasa sampai berbagai bidang : politik, sosial dan ekonomi. 
Namun, pada saat yang sama, Skeptimisme dan Nihilisme terhadap Tuhan dan agama terasa meningkat, dan di dalam buku ini Karen lebih tegas mendukung agama dari serangan bertubi-tubi dari Fudamentalisme maupun pemikir Ateisme, seperti RICHARD DAWKINS, CRISTOPHER HITCHENS Dan SAM HARRIS. 
Dengan tenang dan nada optimis Karen gambakan opsi yang menggairahkan tentang masadepan agama-agama.
lansung saja saya akan menuliskan hipotesis dari KAREN ARMSTRONG….

GLOSARIUM
(kata-kata sulit) 

Ateisme : penyangkalan langsung terhadap eksistensi Tuhan.
Inkarnasi : (diturunkan dari bahasa latin) perwujudan ilahi dalam bentuk manusia; bdk `AVATAR`
Jihad : (bahasa Arab) pejuang, usaha, upaya.
Ortodoks : (yunani kuno) ajaran yang benar
Apologia : (bahasa latin) penjelasan yang masuk akal.
dan masih banyak lagi..

BAGIAN I

"TUHAN YANG TIDAK DI KETAHUI (dari 30.000SM, HINGGA 1500M)
Dalam bagian pertama, saya menemukan kata-kata yang patut anda baca atau telaah dengan baik.
"sejak awal sekali agama dan seni tidak dapat di pisahkan. seperti seni, agama upaya untuk membangun arti di hadapan kepedihan dan ketidak adilan hidup"
Karen juga berkata "Agama adalah kerja keras" yakni wawasan yang tidak tumbuh dengan sendirinya dan harus dibina dengan cara yang sama sepeti musik, seni, atau puisi yang di tumbuhkan. 
namun manusia hidup dengan begitu banyak aturan, sehingga secara berkala mereka mencari eksistensis sebuah "langkah keluar" dari norma.
yang pertama adalah mengenai sifat realitas tertinggi yang kelak disebut Allah, Nirvana, Brahman, atau Doa. masyarakat kuno mengekspresikan perasaan mereka tentang filsuf Jerman Martin Heidegger sebagai "wujud"(Being), sebuah energi mendasar yang mendukung dan menggerakkan segala sesuatu yang hadir.
 Wwujud tersebut bersifat transender, kita tak dapat melihat, menyentuh atau mendegar, melainkan hanya bisa melihat kerjanya pada manusia atau benda. 
dan Nirvana adalah hasil alamiyah dari menjalani hidup dokterin Budhha annata ("tanpa diri"). 
kisah dari Yakub  yang melarikan diri ke Kanaan.
 setelah berseteru dengan keluarganya, dan bertemu malam di Luz di perbatasan tanah perjanjian (tempat keramat Kanaan) sebuah maqom,
 Yakub pun tertidur menggunakan salahsatu batu yang di buatnya bantal yang di ambil dari tempat itu, dan beliau mendapatkan mimpi, tangga yang ujungnya ada di langit dan melihat para malaikat Allah turun naik di tangga itu. berdirilah Tuhan di sampingnya. 
dan Yakub terbangun dari mimpinya dan berkata "sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahiunya".
 itu tidak lain dari rumah Allah, sebelum melanjutkan perjalanan Yakub menegakkan batu yang di buat tuggu dan di sucikanya dengan dengan minyak yang di guyur dari atas batu tersebut.
Koloni Yunani di pantai Ionia Asia Minor, mulai berfikir tentang Kosmos
dalam cara yang sepenuhnya berbeda, dan mereka terkenal sebagai
Phushikoi, kelompok "naturalis" dikarenakan
pemikiran mereka sepenuhnya pada dunia materil.
Mereka tidak menyekutukan agama; bahkan bahkan tidak ada salah satu dari
agama yunani yang tidak sesuai dengan penyelidikan semacam ini
dan Paramedis megembangkan Skeptisme radikal 
yang di anggap bahwa semakin benar.
Saat Eropa berada di ambang perubahan sosial, budaya, politik dan intelektual besar, dan saat Eropa memasuki Dunia moderen, spiritual sedang dalam titik pasang yang rendah
dan akan merasa sulit untuk merespon tantangan secara kreatif.

Senin, 25 Februari 2013

Kata-KATA BIJAK PARA FILOSOF YUNANI








”Orang yang berilmu mengetahi orang yang bodoh karena dia pernah bodoh,sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang berilmu karena dia tidak pernah berilmu”.

-Plato-



"orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang menganggap teguran teguran keras baginya lenbut dari pada sanjungan merdu dari penjilat yang berlebih-lebihan"
-Thales-



"Cobalah dulu,baru cerita. Pahamilah dulu,baru menjawab. Pikirlah dulu,baru berkata.Dengarlah dulu,baru beri penilaian .Bekerjalah dulu,baru berharap.
-Socrates-




"jika engkau ingin hidup senang ,maka hendaklah engkau rela di anggap sebagai tidak berakal atau di anggap orang bodoh".
-Phytagoras-

FILOSOF YUNANI KLASIK


Pada periode yunani klasik perkembangan filsafat menunjukan kepastian,

yaitu ditandainya semakin besar minat orang terhadap filsafat. Zaman klasik bermula dengan Socrates, tetapi Socrates belum sampai kepada sesuatu sistim filosofi, yang memberikan nama klasik kepada filosofi itu.

Sistem ajaran filosofi klasik baru dibangun oleh plato dan aristoteles, berdasaran ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik beserta folosofi alam yang berkembang sebelum Socrates.

Plato mencapai titik persatuan dalam Filosofi grik yang selama itu menyatakan perbadaan pandangan. Dengan itu terdapat, untuk pertama kali dalam sejarah dunia barat, suatu sistem pandangan yang menyuluhi keseluruhannya dari satu pokok

. Aristoteles meneruskan pokok pengertian Plato dan membangun suatu sistem Filosofi yang di dalamnya terdapat tempat tersendiri bagi berbagai ilmu spesial. 

Buah pikiran dalam sistem pengetahuan Plato dan Aristoteles menguasai alam pikiran orang barat sampai kira-kira dua ribu tahun lamanya. Itulah yang membarikan nama klasik kepada Filosofi mereka.

LATAR BELAKANG FILOSOF


Latar belakang masalah Beberapa tentang kelahiran dan perkembangan Filsafat pada awal kelahiranya tidak dapat di pisahkan dengan perkembangan (Ilmu) pengetahuan yang munculnya pada masa peradaban kuno (masa yunani) 

makna kata Filsafat sendiri adalah cinta Keahrifan, arti kata tersebut belum memperhatikan makna kata yang sebenarnya dari kata Filsafat, sebeb pengertian “mencintai” belum memperlihatkan keaktifan seorang Filosof untuk memperoleh Kearifan.

Aliran yang mengawali periode yunani klasik adalah Sofisme,

 kata Sofis berarti Arif atau Pandai,yaitu gelar bagi meraka yang memiliki kearifan dalam menjalani kehidupan. Namun pada zaman ini, kata Sofis berkaitan dengan orang yang pandai bicara, mempengaruhi oarng dengan kepandaian berdebat. 

Sofis dalam gambaran yang di berikan para tokoh aliran ini terlihat jahat dan tidak memilki moral. Namun mereka sebenarnya memiliki jasa yang lumayan besar dalam perkembangan Filsafat. 

Dan ada beberapa pendapat orang terhadap aliran Sofisme yaitu ada yang menganggap bahwa aliran Sofisme sebagai aliran yang merusak dunia Filsafat.

PENGANTAR PENULIS



   
Ketertarikan saya terhadap sejarah agama 
adalah mempelajari sistem pemikiran yang dipengaruhi keadaan dari zaman ke zaman sebelum sistem filsafat tersebut diadopsi menjadi bentuk agama formal dengan sejumlah pengikutnya. 

Tulisan ini bertujuan hanya untuk menyajikan penjelasan singkat, sebelum nantinya mungkin pembaca berminat untuk mempelajari dan mengkajinya lebih mendalam.

Tanpa dasar pemahaman sejarah filsafat, sering hanya mengikuti sesuai tradisi, tanpa memahami berpijak pada fondasi dari ajaran itu sendiri.

 Masih belum setiap aliran melakukan pembenaran diri, 
namun jika kita menganalisa dalam konteks sejarah, tentu ada hikmah-hikmah tertentu yang bisa dipetik
 bahkan bagi mereka yang bukan Buddhis sekalipun.